Hidup itu ketidaksempurnaan
Sebagian orang pasti mengakui kalo Ida itu cantik, baik dan menyenangkan, teman wanita atau pria rata-rata senang berteman dengannya. Setelah lulus kuliah gadis bermata teduh ini sangat mudah mendapatkan pekerjaan, hal tersebut menambah poin plus di mata teman-teman kampusnya. Dikantornya pun Ida menjadi karyawan baru yang mendapat perhatian lebih dari bosnya. Tentu hal tersebut tidak disukai oleh karyawan lama yang memang sudah lama mengharap perhatian lebih dari sang bos. Walhasil Ida menjadi bahan perbincangan pro dan kontra. Ada yang tetap menyukai sosok Ida karena memiliki hati yang luhur, ada yang biasa saja, tapi tidak disukai sebagian besar karyawan wanita yang merasa lebih senior dari dirinya.
Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada Agus, sebagai karyawan yang cerdas, pria bertubuh gempal ini mampu membawanya ke posisi yang semakin tinggi secara bertahap. Bos wanitanya sangat bangga dengan hasil kerja Agus, sehingga pria penyuka masakan sate ini dianggap seperti anak oleh sang bos. Meski Agus tidak pernah “maen sikut” kepada teman-teman selevelnya, melainkan kecerdasannya yang membuat ia akhirnya menjadi pimpinan diantara mereka. Sudah pasti hal tersebut tidak disukai teman-temannya, walhasil Agus menjadi musuh bagi beberapa orang yang menganggap bahwa Agus itu penjilat, sombong dan makan teman.
Ada juga yang seperti Lila, seorang wanita yang sering marah-marah tidak jelas, kadang mendadak nangis bombay, merasa dirinya paling sengsara di muka bumi ini, terus mengeluh akan segala hal. Oh my God...come on mom! All people have problems! Not only you!! Wanita ini selalu berharap semua orang mengerti posisinya, berharap mendapat belas kasih dari orang-orang sekitar bahwa dia yang paling menderita. Plis deh! Gak capek selalu bermuram durja dan merasa patut dikasihani. Bukankah hal tersebut malah bikin orang disekitar kita sebel melihat kelakuan tersebut.
Satu yang sangat berbeda dari Lila, adalah Widya.. gadis satu ini selalu ceria. Setiap bertemu pasti senyum sumeringah menghiasi wajahnya. Tampak tidak pernah ada masalah dalam hidupnya. Tak disangka gadis mungil ini ternyata memiliki masalah hidup lebih berat dari siapapun juga. Selain orang tuanya bercerai, ternyata Widya memiliki penyakit HIV yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawanya. Penyakit tersebut tertular saat Widya melakukan transfusi darah dari jarum bekas pakai. Tapi hal tersebut bukan menjadi hambatan bagi Widya untuk menjadi yang terbaik. Terbukti Widya aktif di bidang sosial bagi anak-anak kurang mampu. “life must go on” itu simbol gadis yang sering berkepang dua ini.
Seseorang pernah berkata “tidak semua orang pasti menyukai kita, tidak setiap orang menjadi teman kita, dan tidak semua orang mengerti masalah kita, jadi jangan pernah menjelaskan keluh kesahmu atau masalahmu kepada orang lain karena itu akan sia-sia. Ketidaksempurnaan mengikat hidup”.

Komentar